Rujak Pedas di Muka Istriku
“Ana, kami besarkan dengan kasih sayang. Tenaga, keringat,saya peras untuk kasih Ana makan. Siang malam kami menjaganya, tak pernah sayabolehkan satu orang pun menyakiti dia. Tangan ini yang mengizinkan kamu membawaAna pergi. Untuk disayangi, dicintai, dibahagiakan. Tapi kamu tidak pernahbertanggung jawab pada Ana. Anak kami harus pulang keadaan seperti ini. Bumidan langit yang menjadi saksi, saya tidak akan pernah memaafkanmu sampai akhirhayat.”
Suara Bapak menggema di rumah sakit yang dingin ini. Aku takbisa bicara, hanya diam dan menunduk. Ibu mendadak pingsan. Indira teriakhisteris. Lalu kericuhan pun terjadi lagi.