Nadya di Antara Dua Dunia
Seprai putih, dengung pendingin udara, serta lengan Januar yang tergeletak di atas pinggangnya terasa asing sekaligus terlalu nyaman untuk segera ditinggalkan.
Ia bergeser pelan. Tubuhnya masih menyimpan sisa malam tadi—sedikit pegal, hangat, dan malu yang kini tidak lagi membuatnya ingin bersembunyi. Gerakannya membangunkan Januar. Laki-laki itu membuka mata, lalu melirik jam di meja samping ranjang.
“Masih jam tujuh lewat.”
“Kita harus berangkat jam setengah sebelas.”