Roh Dewa Perang
Senandika tak lagi perempuan yang melarikan diri dari gelar Mahadewi, dari takdir, dari pengkhianatan bintang, atau dari Sahasika.
Ia kini menerima. Bersamaan dengan penerimaan itu, ruh bintangnya kembali menyatu. Sayap-sayapnya, yang dulu terlipat karena luka, kini membentang dengan pola rumit seperti jalinan takdir. Warna-warna kehidupan dan kehampaan menyatu menjadi simbol yang sakral. Senandika bukan hanya mahadewi kini, tapi juga penyeimbang takdir.
“Aku mendengar kalian, Hara, Arsa, aku kembali.”
Bab Populer