Di Balik Senyum Istri
Senyumku lagi-lagi mengembang dengan sempurna meski rasanya hatiku bagai dihujam belati bertubi-tubi, sakit dan berdarah.
Perlahan aku mulai melepaskan tangannya yang menempel di pinggangku tapi justru dia malah mengeratkan genggamannya, lalu sedetik kemudian dia mulai menggelengkan kepalanya pelan.
“Lepas, Bang!” lirihku tak lupa dengan senyum yang tak pernah lepas.
Senyuman pelipur lara, meski tak mengobati luka, tapi menghadirkannya dalam setiap masalah membuat kita lupa, walau hanya sejenak.