SELIR HATI
“Jaga ucapanmu!”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Gita tak membalas. Ia hanya menunduk lebih dalam, menahan air mata yang hampir jatuh.
“Aku hanya ingin pamit.”
David berdiri kaku. Ia melihat Gita, wajahnya yang kelelahan, matanya yang kehilangan cahaya, namun ia diam.
Dan diam itu terasa seperti pisau.
Dias menyeringai.
“Kenapa kau hanya diam saja, David?” suaranya tajam. “Bukankah selirmu sedang berduka? Bukankah dia datang khusus menemuimu?”
Bab Populer