Suami Adikku Memuja Rahimku
Jam dinding di lorong belakang berdetak tepat pukul tujuh ketika ketukan pelan terdengar di pintu kamarku.
"Mbakyu Sekar... sarapan sudah siap."
Suara Bu Siti, ART yang sudah belasan tahun bekerja di rumah Djayadi terdengar hati-hati. Selalu ada nada kasihan yang terselip setiap kali ia memanggilku.
"Iya, Bu. Saya segera keluar," jawabku, berusaha memoles suaraku agar terdengar segar, meski tenggorokanku terasa kering.