Tiga Mayat Satu Takdir
Laila mengisyaratkan setuju, tangannya bergerak cepat, matanya cokelat besar penuh ketegangan.
Sophia mengangguk pelan, ekspresinya polos namun tegang. “Sarah benar—jika aku melahap mereka sekarang, aku akan lambat, dan kita takkan bisa lari,” katanya, suaranya halus seperti angin yang melemah. “Waktu Kebangkitan makin dekat—makhluk yang kita bunuh akan bangkit lagi segera,” tambahnya, matanya melirik langit yang mulai gelap, membuat kelompok itu menegang oleh ancaman yang kian nyata.
Hot Chapters