18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud
Kata-kataku itu membuat Imelda merasa seakan-akan beban berat baru saja terangkat dari pundaknya.
Imelda buru-buru bangkit berdiri. Sebelum pergi, dia kembali berkata, "Kalau jadwalmu jam tiga sore, berarti masih sempat. Besok pagi jam sepuluh, kita pergi ambil buku nikah ya. Tenang saja, kali ini apa pun yang terjadi, aku pasti akan datang tepat waktu."
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum getir. Pada akhirnya, Imelda tetap tidak memberiku kesempatan untuk memutuskan hubungan ini secara langsung di hadapannya.