Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Bukan Cinta Duda Biasa

Bukan Cinta Duda Biasa

Setelahnya ia mengecup pipi kanan dan kiri Diani. Diani hanya mengangguk samar. Ia cukup malu jika mengingat hal drama yang ia lakukan beberapa hari kebelakang. Sepertinya hormon kehamilan membuatnya jadi bukan seperti Diani. Ya, menyalahkan hormon memang yang paling tepat untuk saat ini. “Kalian mau menginap dulu kan di Ternate?” tanya Sita setelah melepaskan pelukan Diani. “Iya, Tante. Mumpung lagi di sini,” jawab Samudera yang kini sudah berada dihadapan Sita dengan barang bawaan yang terlihat banyak di kanan kirinya.
1011.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 441 kali sebagai sitor situmorang
Baca
+Pustaka
Kidung Mayit

Kidung Mayit

Om itu melirik temannya dan lantas berkata," dahlah, kita lakukan tugas dan segera pergi dari sini. Aku lelah." "Oke," jawab sopir itu. Sedangkan aku hanya terpaku, merasa di kacangin dan terpaksa ikut mereka menuju Villa besar dengan aksitektur kuno seperti rumah pada jaman Belanda. Aku tak mampu melihat pemandangan sekitar Villa karena lampu hanya bertumpu pada bangunan dan sekitar gelap. Hanya terlihat pepohonan tinggi menjulang.
1.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 41 kali sebagai sitor situmorang
Baca
+Pustaka
Obsesi Liar Maduku

Obsesi Liar Maduku

Tapi tentu saja Siti berharap bahwa tubuh Rama sudah terlempar keluar sebelum mobil itu meledak. Bau barang terbakar dan asap yang sangat tebal menghalangi pandangan Siti. Dia terbatuk-batuk saat tubuhnya mengitari mobil itu. Wanita itu menutup hidung dan mulutnya dengan selendang leher yang selalu dia pakai. “Mas Rama … kamu dimana?” ----- Siti terus melangkahkan kakinya menelusuri area jurang tersebut seraya menyapukan pandangan ke arah sekitar untuk mencari asal suara rintihan yang sempat terdengar di telinganya.
13.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 389 kali sebagai sitor situmorang
Baca
+Pustaka
Teror Mantan

Teror Mantan

Rio berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan kemudian lanjut mencari Laura. Sinta turun dari kasurnya dan berjalan ke luar kamar, ia melihat ke sekitar ruang tamu tak ada siapapun hanya terdengar suara bising di arah dapur. Sinta langsung melangkahkan kaki ke dapur, terlihat Anita sedang menata meja makan, aroma nasi goreng yang harum langsung menerpa indra penciuman Sinta. "Kamu udah bangun Sin?" tanya Anita basa-basi saat melihat Sinta memasuki dapur.
106.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 191 kali sebagai sitor situmorang
Baca
+Pustaka
Sang Bangsawan

Sang Bangsawan

".... Pavillium, Grecia, Kenzy, Neville, Ramos." Bangsawan yang terpanggil sontak bersorak. Ternyata, bukan hanya Ksatria yang terpilih, melainkan terdapat dua Baroness yang tadinya berdiri di lantai dua, kini mereka turun dan berdiri di depan Albert. "Kelompok ke dua.... James, Lauren, Abyaz, Velmort, Pohan."
103.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 81 kali sebagai sitor situmorang
Baca
+Pustaka
Sebening Tirta

Sebening Tirta

Melihatku yang tak banyak memberi reaksi, perawat berpostur mungil itu memasang muka masam sambil berlalu membawa berkas-berkas di tangannya. Tempat itu sesungguhnya jauh dari kata menyeramkan, bangunan empat lantai yang megah dengan lahan parkir luas, di bagian depan, taman bunga warna-warni menyambut siapa pun yang singgah dengan senyum cerah. Suara gemericik air mancur dan kolam ikan mini di tengah taman sungguh menenangkan hati. Pohon-pohon buah yang rimbun, beberapa tempat duduk berkanopi dan jalan setapak berkerikil kecil, sungguh manis sekali. “Di mana Damar?” Tanpa sedikit pun mengurangi laju langkah, kulontarkan balik sebuah pertanyaan pada Martha yang masih menunggu pendapatku meng
9.33.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 71 kali sebagai sitor situmorang
Baca
+Pustaka
Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia

Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia

"Oya Sita... ini Kang Ryan. Dia sahabatku yang paling dekat." Sita tersenyum sambil mengulurkan tangan kepada Ryan. "Kang Ryan... saya Sita. Saya akan siapkan makan untuk Kang Bumi dan Kang Ryan ya." "Eh jangan, Sita... saya sudah makan banyak gorengan ini," kata Ryan. "Ryan... kita ini orang Bandung," kata Bumi. "Kita belum disebut sudah makan kalau belum makan nasi." "Itu benar, Kang Ryan...," tawa Sita. Ia segera berlalu.
1011.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 264 kali sebagai sitor situmorang
Baca
+Pustaka
Purba Sang Pemuas

Purba Sang Pemuas

Muncratlah semburan cairan kental hangat membasahi paha mulus anak pejabat tersebut. "Pusaka ini sebenarnya masih butuh tiga betina lagi untuk ditaklukkan sampai tunduk. Tapi gara-gara perutku meronta kelaparan, aku terpaksa menuruti ajakanmu memburu daging. Kita kembali ke sarang sekarang, Betina Kacamata."
9.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 246 kali sebagai sitor situmorang
Baca
+Pustaka
Catur Rogo

Catur Rogo

Ia kemudian duduk karena sudah menyelesaikan memindahkan baju. Taksa mengikuti Seto dan berdiri di sebelahnya. Tubuhnya agak ke belakang dengan pinggang yang bersandar pada meja kasir. Kedua sikunya bertumpu juga di sana. "Emang kenapa? Bentuk rumahnya aneh? Atau letaknya di dekat kuburan?" Taksa menatap Seto, ia penasaran karena penjelasan yang sedari tadi ia dengarkan. "Bukan di dekat kuburan, tapi terletak di ujung jalan di jalur pertigaan. Rumah tusuk sate kebanyakan orang bilangnya," ungkap Seto dengan meneguk air minum dari botol mineral.
104.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 133 kali sebagai sitor situmorang
Baca
+Pustaka
Asmaraloka Sang Putri Pusaka

Asmaraloka Sang Putri Pusaka

seru Situ pendek, menahan rasa perih. Sitira yang berada di dekat tungku langsung heboh. “Astaga, Situ! Tangannya kena! Panas, panas!” Ia buru-buru mengambil sehelai lap basah dan menepuk-nepukkan ke tangan Situ.
2.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 56 kali sebagai sitor situmorang
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status