Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Hoffen

Hoffen

sahut Trisha yang membuat Zhui mengangguk pelan. “Hati-hati. Pulang sekarang aja, ada bus terakhir yang datang sepuluh menit lagi,” tuturnya seraya berjalan lebih dulu meninggalkan Trisha yang masih menatapnya. Tiana yang mendengar obrolan sang adik dengan Zhui pun tersenyum karena ada kesempatan tanpa memikirkan alasan yang logis untuk mengajak Trisha pulang bersama. “Sha, gimana—“
1012.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 476 kali sebagai take a hint
Baca
+Pustaka
Titip

Titip

Abah menamparku pagi-pagi dengan nasihat yang menghujam hati. Aku menatap Abah sekilas, menyeringai sambil menahan malu. Aku baru saja melupakan ilmu fisika hukum kekekalan energi, bahwa apa pun yang kita lepas tidak akan musnah begitu saja, suatu hari nanti dia pasti kembali menghampiri pemiliknya. Selaras dengan tamparan Abah barusan, kata-kata baik akan kembali baik, pun sebaliknya. “Airin tengok Abang dulu, Amak. Titip Manda sebentar.”
107.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 307 kali sebagai take a hint
Baca
+Pustaka
TERTIPU CINTAMU

TERTIPU CINTAMU

tanyanya "Tidak terlalu sih, tapi terima kasih, ya.” "Kalau begitu, makanlah. Hujan tadi membuatmu lapar 'kan?" Ah, Kevin sangat tahu. Apa dia mendengar perutku yang berteriak terus menerus? Ash! aku membuka bungkus cokelat itu, menikmati sambil menonton.
2.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 62 kali sebagai take a hint
Baca
+Pustaka
Turn Back Time

Turn Back Time

“Kalau mendadak kamu melupakanku, jangan pernah mencariku lagi karena mungkin aku juga sudah melupakanmu.” Perkataan menohok dari Irina tadi sore amatlah membekas dalam ingatan Tristan, bahkan dalam keadaan sholat pun ia masih terpikirkan perkataan Irina, membuat sholatnya sedikit tak khusyuk. Tristan tahu dengan jelas apa maksud Irina tadi, hal itulah yang membuatnya merasa tertohok.
104.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 88 kali sebagai take a hint
Baca
+Pustaka
HURT

HURT

Kemudian, disesapnya minuman itu perlahan, menikmati sensasi manis dan sedikit pahit yang menyentuh permukaan lidahnya. Cokelat panas, minuman favoritnya ini memang selalu menjadi senjata paling ampuh untuk mengusir lelah dan penatnya. “Ponselmu.” Mi Kyung meletakkan ponsel berwarna biru metalik ke atas meja dan mendorongnya ke arah Joon. “Kau harus segera mengaktifkannya. Siapa tahu ada orang penting yang hendak menghubungimu. Sudah dua hari kau menonaktifkannya, bukan?”
103.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 135 kali sebagai take a hint
Baca
+Pustaka
Shadow

Shadow

Jean menggerakan telunjuknya ke kanan dan ke kiri menunjukkan bahwa jawaban Watt salah. "Aku memesan segelas air putih. Aku harus menghemat uang ku sampai bulan depan." To be continue...
9.911.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 391 kali sebagai take a hint
Baca
+Pustaka
Exit

Exit

Seperti bisa membaca pikiranku April memberi peringatan, mengacungkan jempol. Aku balas mengangguk, memutar kenop pintu, mencoba membuka pintu bilik yang dipakai siswi itu, dan benar dugaan April, pintu itu tidak terkunci. Sebelum masuk, aku menoleh sekilas ke belakang, dimana April yang sudah berjalan menuju pintu toilet. ***
102.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 63 kali sebagai take a hint
Baca
+Pustaka
Tamu yang Tak Diundang

Tamu yang Tak Diundang

Ia marah. Astaga! Benarkah? Segera kuraih ponsel di dalam saku celana, memeriksa isinya. Benar. Ada pesan darinya yang belum kubuka. Mungkin karena ku-setting nada diam jadi tidak ketahuan ada pesan masuk. [Belikan satu gelas kopi latte untukku di tempat biasa. Honey.] Disertai emot love. "Maaf. Aku lupa menyalakan nada deringnya. Jadi pesanmu–"
1029.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 728 kali sebagai take a hint
Baca
+Pustaka
Greedy

Greedy

tegas Rey. Husna menatap Rey bingung. "Drama?" Rey melempar flashdisk itu dan Husna menangkapnya. Husna mendelik, ketika Rey melayangkan flashdisknya ke arah dirinya. "Tidak sopan," batin Husna. Husna menatap Rey dengan wajah masam. Dia mencari sebuah tanda di flashdisk itu. Diflashdisk itu terdapat warna hijau, yang artinya itu adalah flashdisk yang berisi semua drama kesukaannya. Kedua mata Husna membulat. "Seharusnya aku tidak menandainya dengan warna hijau dan biru. Terkadang ibuku tidak bisa membedakan kedua warna itu," batin Husna. "Ah,aku juga salah, karena meminta ibuku untuk mengambil flashdiskku," bisik Husna.
105.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 216 kali sebagai take a hint
Baca
+Pustaka
Choice

Choice

“Mungkin orang iseng aja. Yang ngacak nomor. Jangan diangkat lagi. Sekarang marak hipnotis lewat telepon.” Ray beranjak menuju kamarnya. Reihan memandang nomor itu lagi, masih penasaran dengan si penelepon. Tapi mengikuti saran adiknya. Dia menekan tombol hapus panggilan. Dalam sekejap nomor itu sudah hilang dari layar ponselnya. Reihan menuju dapur, mengecek roti bludder buatan istrinya. ***** ***** *****
102.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 49 kali sebagai take a hint
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
12345
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status