Istri Tebusan Paman Mantanku
“Baik, Kak. Uhm, jangan menyebutku kakak ipar. Biasanya Kian menyebutku Laura, tapi Kak Adinda boleh menyebutku Tata atau terserah siapa saja.”
Adinda terkekeh sambil menautkan alisnya. “Oke Tata. Aku jadi bingung. Kamu adalah kakak iparku, tapi kamu menyebutku kakak. Ayolah, tidak usah memanggilku kakak. Kita ini seumuran kan?”
“Tidak mungkin. Aku baru berusia dua puluh dua tahun,” jawab Laureta jujur.
“Oh, ya ampun! Dua puluh dua tahun?” Mata Adinda melebar. “Benar-benar ya kakakku ini! Ternyata dia sukanya dengan daun muda.”