Istri yang Terabaikan
Segalanya terlihat mewah, seperti kamar di istana.
“Jadi... ini kamar kamu?” gumam Aira lirih.
Ia takjub melihat tempat tidur king size dengan seprai tebal, lampu gantung kristal, dan karpet lembut di bawah kaki.
“Untuk sementara kamu tidur di sini,” kata Gavin datar.
“Supaya Eyang nggak curiga.”
“Aku... nggak bisa di rumah saja? Aku lebih nyaman di sana,” pinta Aira pelan. Ia rindu sofa kecil di rumahnya—tempat ia biasa tidur setiap malam.