Rasaku Ditelanjangi
Tapi setiap emoji, jeda, dan titik-titik di ujung kalimat membawa rasa yang tak bisa dijelaskan.
Aku membuka folder tersembunyi. Memutar lagi voice note itu.
Sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
“...kamu yang akan tentukan aku tidur di mana, dan dekat siapa.”
Aku menyentuh dada. Bukan karena sakit. Tapi karena ada sesuatu yang berdebar tidak biasa. Aku merasa bersalah. Tapi juga merasa hidup.
Dan hari itu, aku tahu—aku tidak sedang membuat daftar logistik perjalanan. Aku sedang membangun jembatan sunyi ke sesuatu yang belum boleh disebut nama.