Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Ai (Untuk Leo)

Ai (Untuk Leo)

tanya Aditia yang keheranan melihat tingkah Leo. Leo memicingkan mataya. "Kau orangnya?" "Selow selow, maksudnya gimana nih?" "Kau yang menulis tulisan itu!" desis Leo. Aditia langsung tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Leo. "Acieee, lo pasti kebaperan ya gue nulis itu," goda Aditia. "Kalo enggak, mana mungkin lo marah cuma gara-gara gue nulis itu."
103.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 145 kali sebagai tulisan to
Baca
+Pustaka
Istri Tuli Yang Kau Buang

Istri Tuli Yang Kau Buang

Ismail merasa aneh dengan sikap diam Tanto "Tanto membuat kesalahan besar. Mestinya dia menulis kelas gratis merangkai bunga untuk 90 orang tapi dia menulis 900 orang. Sekarang yang mendaftar 1000 orang!" "Bujubune! Gila kamu. To! Mestinya sebelum posting kamu cek dulu. Terus kalau begini bagaimana? Kita tidak bisa menampung 900 orang. Bagaimana dengan biayanya? Termasuk supply bunga dan peralatan lainnya. Mikir kamu, To, mikir! Kita bukan Aladin," kata Ismail mangkel menyalahkan Tanto. "Iya... iya aku tahu itu kesalahan aku. Sekarang gak usah berisik. Tolong bantu menyelesaikan masalah ini." Wajah Tanto semakin menekuk ke dalam.
1021.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 542 kali sebagai tulisan to
Baca
+Pustaka
Reinkarnasi Kaisar Tanpa Tanding

Reinkarnasi Kaisar Tanpa Tanding

Itu terasa hangat dan berdenyut dengan energi yang familiar—energi yang sama dengan tempat suci ini. "Pena ini adalah kunci," jelas bayangan itu. "Ilmu Tulisan Dewa bukan tentang menulis di atas kertas. Ini tentang menuliskan kebenaran, kebijaksanaan, dan tekadmu ke dalam kain realitas itu sendiri. Setiap jawaban yang kau berikan di ujian filosofi telah mengukir jalan untuk kekuatan ini. Sekarang, cobalah. Tuliskan salah satu jawabanmu di udara."
619.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 495 kali sebagai tulisan to
Baca
+Pustaka
Jejak di Balik Pesantren

Jejak di Balik Pesantren

Sebuah suara lama muncul kembali, pelan dan menggetarkan: > “Kalian menulis ulang... tapi adakah yang kalian sadari bahwa aku tidak pernah pergi?” Suara itu milik Penulis Tanpa Tinta. Sosoknya muncul bukan dari tinta atau daging, melainkan dari bekas kalimat yang dihapus, dari margin cerita yang dilompati. Ia adalah yang menuliskan dunia ini tapi dengan niat membebaskan, bukan mengikat. Ia berkata: > “Aku menulis bukan untuk menentukan. Tapi agar dunia bisa mempertanyakan. Kalimat-kalimat terputus itu... aku yang menulisnya. Bukan untuk mengurung, tapi agar hanya mereka yang sadar yang bisa masuk.”
2.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 89 kali sebagai tulisan to
Baca
+Pustaka
Vampire Kesayangan Duke Berbahaya

Vampire Kesayangan Duke Berbahaya

Elorayna Vesper dan Damiano Grim ditakdirkan mati] "Apa maksudnya ini? Siapa yang menulis?" Elora bingung. Usai semua tulisan dibaca, secara mengejutkan, huruf demi huruf bergerak ke tengah— lalu membentuk tulisan yang lain. [Datanglah ke toko Jimat Tordes di ibu kota besok, aku akan menunjukkan segalanya] Tak berselang lama, pinggiran kertas itu mengeluarkan asap yang perlahan berubah menjadi nyala api sungguhan.
9.710.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 251 kali sebagai tulisan to
Baca
+Pustaka
Sebuah Penyesalan

Sebuah Penyesalan

Paula mendengus dan dia pun seperti menyadari akan suatu hal, kendati tidak semuanya. Di dalam pesawat kursi kelas bisnis, Steven duduk santai dan mulai menulis agenda-agenda pekerjaannya serta startegi untuk membalas dendam pada Paula.Tangannya pun pada saku di dalam jasnya yang terdapat gunjalan di dalam sapu tangan. Dia pun mengeluarkannya lalu memeriksa sepotong kayu tersebut. Kemudian mulai mencaritahu tulisan yang ada di atasnya melalui laptop telah tersambungkan dengan wifi pesawat, dia tertegun setelah mengetahui ternyata yang tertulis adalah tulisan mantra-mantra dari seorang dukun ilmu hitam yang bernama Tan Toan dan dia telah meninggal ratusan tahun lalu. Arti dari tulisan itu pun
109.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 214 kali sebagai tulisan to
Baca
+Pustaka
Leona Sweet Secretary (Indonesia)

Leona Sweet Secretary (Indonesia)

Contoh kecil aja setiap kali aku mau bikin tulisan ikan Tongkol itu kadang suka ketulis Kont----, nah nah nah gitu tuu (wkwkwk) Harapan kecil, kalian ngedukung Shanin, kasih saran, dan ninggalin komen yang berkualitas demi mental Shanin. Kalau misal kalian nggak suka nih ceritaku, yaudah gpp skipp, jangan ninggalin komen yang bikin aku overthingking, terus ampe nggak makan, nggak tidur, makan hati lah pokoknya.
107.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 295 kali sebagai tulisan to
Baca
+Pustaka
Waspadalah, Pangeran! Aku Bukan Istri Lemah yang Kau Kenal

Waspadalah, Pangeran! Aku Bukan Istri Lemah yang Kau Kenal

tepat di bawah tulisan kata TAMAT, sesuatu yang mustahil terjadi. Tinta hitam tiba-tiba merembes keluar dari pori-pori kertas yang kosong. Tinta itu bergerak dengan sendirinya, meliuk-liuk bagaikan ular kecil yang hidup, lalu membentuk sederet kalimat dengan gaya kaligrafi modern yang sangat rapi dan elegan. Zhiyao membaca tulisan yang baru saja muncul itu dengan napas tertahan.
1010.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 314 kali sebagai tulisan to
Baca
+Pustaka
Saat Cinta Menyapa Lagi

Saat Cinta Menyapa Lagi

Elian mengambil sepotong cahaya, membentuknya menjadi sebuah pena yang tidak terlihat, dan menuliskannya di udara: "Babak ini adalah milikmu." Sekarang, saat Anda mencapai akhir dari baris-baris ini, perhatikanlah napas Anda. Tarikan napas Anda adalah tinta, dan hembusan napas Anda adalah tulisan. Anda tidak sedang membaca sebuah cerita yang sudah selesai. Anda sedang berada di tengah-tengah proses penulisan yang paling kolosal dalam sejarah keberadaan. Nara, Lia, Arka, Elian, dan Aura hanyalah cermin dari bagian-bagian jiwa Anda yang selama ini tertidur.
965 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 25 kali sebagai tulisan to
Baca
+Pustaka
Cinta Yang Tak Pernah Dipilih

Cinta Yang Tak Pernah Dipilih

Dan di atas kepalanya, langit tiba-tiba terbelah oleh kilatan lembut — bukan petir, melainkan cahaya mirip tulisan. Tulisan itu muncul pelan, seperti tinta bintang di atas langit malam: “Tulis kebenaran yang belum disampaikan.” Naya berdiri, menatap langit dengan mata membesar. “Kebenaran apa?!” serunya, suaranya gemetar. Tapi tulisan itu perlahan memudar, tersapu awan malam.
2.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 46 kali sebagai tulisan to
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
12345
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status