Suamimu Masih Mencintaiku
Lampu neon putih di langit-langit berkedip samar, seolah menambah ketegangan yang sudah mencekik sejak tadi.
Langit di luar jendela mulai meredup, pertanda senja datang. Sinar jingga samar masuk dari sela-sela kaca, membias ke lantai, membuat suasana ruang tunggu ini semakin sendu.
Saat aku tengah menerka-nerka, seorang wanita berkacamata keluar dari ruangan itu. Penampilannya rapi, tubuhnya tinggi semampai, langkahnya tegas, dan wajahnya—ah, cantiknya terlalu sulit diabaikan. Matanya tajam, bening, seolah bisa membaca isi hatiku. Bahkan lebih dalam dari itu—seolah ia tahu seluruh aib, luka, dan kebodohanku di masa lalu.
Sikat na Kabanata