Pesona Istri Yang Kuabaikan
"Kamu harus tahu tempat makan ini, jika kelak kita hidup susah dan tak ada makanan yang bisa dimasak dan dimakan, kita bisa membeli makanan di tempat ini. Murah meriah."
"Kenapa pikiranmu buruk begitu sih, Kak."
"Hanya jaga-jaga," ucapku sembari menarik pelan tangannya, agar bangun dari kursi tempat di mana dia duduk.
Keluar dari halte, kami menyusuri jalanan kota yang panas menyengat di siang hari. Aku berhenti saat kami sampai di sebuah warung makan yang menyediakan berbagai jenis lauk dan sayuran. Konon katanya sistem pelayanannya mengunakan touchscreen.