BUKAN MENANTU KAYA
“Kemana aja, Mas?“ tanyaku sambil meraih tangannya.
“Mas di sini, Sayang. Ayo jalan-jalan,“ katanya.
Aku mengangguk. Kami berjalan menyusuri taman penuh bunga. Hangat, indah, seperti mimpi. Aku menggenggam tangannya erat.
Tapi tiba-tiba, genggamannya melonggar. Dia menatapku lama, dengan mata yang basah.
“Mas? ada apa?“ tanyaku. Dia melepaskan genggaman, lalu melangkah mundur.
“Mas, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku,“ pintaku panik.
Dia tersenyum, mengusap pipiku. “Sayang ... waktu Mas sudah habis.“
Aku menjerit, tapi tubuhnya perlahan memudar, hilang begitu saja.
*
ตอนยอดนิยม