Angin di Antara Kita
Malam turun perlahan, menyelimuti langit Jakarta dengan warna gelap yang lembut.
Lampu-lampu kota memantul di jendela apartemen Nayla, menari bersama bayangan dirinya yang sedang duduk di tepi ranjang, memandangi layar laptop yang menampilkan satu email belum terkirim.
Subjeknya: “Letter of Acceptance – Golden Frame Tokyo.”
Jari-jarinya bergetar di atas keyboard.
Satu klik saja, dan hidupnya akan berubah.
Namun entah kenapa, setiap kali ia mencoba menekan tombol send, bayangan wajah Ardian muncul — tenang, tegas, dan terlalu nyata untuk diabaikan.
Hot Chapters