LOGINจากองค์หญิงศักดิ์สิทธิ์ผู้สูงส่ง ตกเป็นนางบำเรอของแม่ทัพที่โหดเหี้ยมต่ำช้า หนิงซิน องค์หญิงองค์รองของแคว้นป๋าย ต้องทุกข์ระทม หลั่งน้ำตาดุจธาราในหน้าฝน ในแต่ละวันถูกกระทำย่ำยีเยี่ยงสัตว์เดรัจฉาน แม้สิ้นสติไปแล้ว บุรุษต่ำช้าที่ใต้หล้าครั่นคร้าม ก็ยังไม่ยอมรามือ ข่มเหงรังแกนางอย่างไม่ปรานีปราศรัย ไม่มีแม้แต่เศษเสี้ยวของความสงสารเห็นใจสักนิด จากสูงส่งเสียดฟ้า กลายเป็นดอกหญ้าให้คนย่ำเล่น หนิงซินที่ตกเป็น 'เชลย' ในมือศัตรูที่ร้ายกาจที่สุด จะเอาตัวรอดอย่างไรไหว...
View MoreSebuah mobil sedan yang membawa sepasang suami istri, dan seorang anak lelaki berusia 3 tahun nampak meluncur tak terkendali.
Di depan mobil itu, terpampang sebuah kelokkan tajam lembah Cipanas yang curam dan dalam. Ya, akibat menghindari pengemudi motor yang ugal-ugalan di jalan. Rupanya Sukanta tak bisa melihat, bahwa di depannya terdapat tikungan tajam, “Awas Pahhh..!!” teriak panik dan ketakutan Wulandari sang istri. Sang suami berusaha mengendalikan mobilnya yang oleng. Dan tak sengaja dalam kepanikkannya melihat lembah curam di depannya, Sukanta malah menginjak gas dan rem bersamaan. Brrrmm...!! Ciitttt..!! “Huhuhuuu..! Elang takut Mahh, Pahh,” tangis sang anak, yang menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi. “Pahh..! Innalillahi ...!!” teriak sang istri, wajahnya pucat pasi. “Astaghfirullahaladzim ....!!” seru sang suami keras. Dan tak ayal mobilnya menabrak pagar besi di bibir lembah. Braagghhh !! Pagar besi pun roboh. Sadar akan jatuh ke lembah curam yang tinggi, Wulandari membuka lebar-lebar jendela mobilnya dengan tangan gemetar. Lembah curam setinggi 30 meter dengan sungai berbatu-batu besar. Seolah menjadi pemandangan terakhir, yang sangat mengerikkan bagi mereka di bawah sana. “Elang Prayoga,..! Jadilah anak yang sholeh dan pintar ya. Maafkan Mamah dan Papah akan pergi terlalu cepat,” ucap Wulandari gemetar dan mata basah, sambil mencium putra satu-satunya yang bernama Elang Prayoga itu. “Mahh.. Pahh..! Takut Mahh..!” hanya itu seruan yang bisa dikatakan Elang. Wulandari melihat celah semak di bawah yang agak landai. Kendati mobil dalam kondisi melayang jatuh. "Maafkan mamah Elang..!" ucap lirih bergetar Wulandari. Lalu dia melemparkan putranya ke arah semak itu melalui jendela mobil yang terbuka lebar Wushh..! “Mamahhhh !! huhuuuu !” teriakkan terakhir Elang disertai tangisannya terdengar memilukan. “La..ilahaillallah Muhammadarrasulullah !” sebut pak Sukanta, sambil memeluk Wulandari. "Lailahaillallah.. muhammadarrasulullah,” seru Wulandari mengikuti, seraya menyusupkan wajahnya di dalam pelukkan sang suami. Ya, keduanya telah pasrah dan berserah, atas segala takdir yang kini sangat buruk mereka rasakan. Mobil pun jatuh tepat di sebuah batu besar, yang terhampar di sungai kecil itu, Braagghhhhh !! Gedubraakhh !! Bemper mobil langsung hancur seketika, saat menghantam batu besar itu. Lalu mobil ringsek itu pun terpental kembali, dan menghantam batu lain di sebelah kirinya. Dan.. Blaarrrrkhs..!! Mobil pun meledak dahsyat dan berkobar terlalap api..! *** Raungan sirene ambulan terdengar bersahutan nyaring. Rombongan ambulan itu mendatangi lokasi kecelakaan di lembah Cipanas, yang hendak membawa dua jenazah korban kecelakaan. Tampak tim evakuasi telah berhasil mengangkat jenazah Sukanta dan Wulandari, yang dalam kondisi hangus total tak bisa dikenali lagi. Posisi kedua jenazah tersebut membuat siapapun yang melihatnya akan trenyuh, karena masih dalam posisi saling berpelukkan erat. Seolah memperlihatkan, jika janji sehidup semati telah tunai mereka buktikan. Tim evakuasi juga berhasil menyelamatkan seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar 3 tahunan, yang dalam kondisi pingsan saat ia ditemukan. Sepertinya anak itu pingsan karena menangis terus menerus, dan tak kuat menahan rasa penat yang dideritanya. Karena terhitung selama 5 jam lebih, anak itu berada di semak-semak di tengah lembah. Sebelum tim evakuasi akhirnya datang menyelamatkannya. Ya, anak kecil itu adalah Elang Prayoga adanya..! Tim evakuasi sama sekali tidak menemukan kartu identitas apapun. Karena semua badan dan isi mobil terbakar total. Elang tersadar, setelah dirinya berada di sebuah rumah sakit. Dan saat itu Elang sama sekali tak bisa bicara. Karena rasa trauma dan shock yang di alaminya. Akibat kecelakaan tragis kedua orangtuanya, yang terpampang langsung di depan matanya. Setelah empat hari berada di rumah sakit, dan tak ada seorang pun sanak family yang menjemputnya. Akhirnya pihak rumah sakit menyerahkan Elang ke yayasan panti asuhan, yang berada satu wilayah dengan rumah sakit tersebut di wilayah Ciawi. *** Telah hampir dua minggu Elang tinggal di panti asuhan ‘Harapan Bangsa’. Sebuah panti yang dikelola oleh seorang ibu yang baik dan penyabar, ibu Nunik namanya. Ibu Nunik dibantu oleh bu Herlin dan bu Sati. Sudah belasan tahun Bu Nunik mengelola panti asuhan itu. Tercatat ada 47 anak yatim piatu, yang tinggal di panti asuhan yang dikelolanya. Dengan Elang termasuk di dalamnya. Pagi itu Elang sudah bangun, seperti halnya anak-anak lain di panti asuhan tersebut. Mereka terbiasa melakukan kegiatan beberes kamar dan lingkungan panti asuhan. Lalu dilanjut dengan berolahraga bersama. Selesai berolahraga maka semuanya berkumpul di aula panti asuhan. Untuk acara sarapan bersama, yang disiapkan oleh bu Herlin dan bu Sati. Menu yang sederhana sekalipun akan terasa nikmat, jika kedua ibu itu yang memasaknya. Elang bisa dikatakan adalah anak terkecil dan termuda, di antara anak-anak yang berada di panti asuhan ‘Harapan Bangsa’. Dengan usianya yang masih 3 tahun, dan masih belum bisa bicara, akibat trauma yang dialaminya. Maka Elang mendapat perhatian khusus dari Bu Nunik. Bu Nunik terlihat sangat telaten merawat Elang. Hal mana sedikit menimbulkan rasa iri, dari beberapa anak yang telah lebih dulu berada di sana. Kali ini Bu Nunik berniat mengajarkan tentang nama anggota keluarga sederhana pada Elang. “Nak, kamu bisa katakan ini siapa ?” tanya bu Nunik. Dia menunjukkan foto sebuah keluarga, yang terdiri dari sepasang suami istri dan anak. “Ibu,” ucap bu Nunik, sambil menunjuk foto wanita dewasa dalam foto itu. “Ayah,” ucap bu Nunik lagi, sambil menunjuk foto pria dewasa. “Elang,” ucap Elang pelan, sambil menunjuk foto anak laki kecil di foto itu. “A..apa anak ! U-ulangi sekali lagi.!" seru bu Nunik kaget dan gembira sekali hatinya, mendengar sepatah kata yang di ucapkan Elang. “Mamah, Papahh, Elang,” ucap Elang mulai tenang dan jelas, dalam mengucap kata. Ya, Elang menunjuk foto wanita dewasa sebagai Mamah, pria dewasa sebagai Papah, dan anak laki kecil dalam foto itu sebagai dirinya. Bu Nunik langsung menggendong Elang dan mendekapnya erat, hatinya terasa amat bahagia. Sungguh pantas memang Bu Nunik ini menyandang nama sebagai pengelola panti asuhan. Karena memang hatinya begitu penuh kasih dan sayang, bagi semua anak-anak di dalam panti asuhan yang dikelolanya. “Akhirnya kamu bisa bicara anakku, Elang,” ucap bu Nunik serak. Mendengar bu Nunik berkata demikian, bu Herlin dan bu Sati yang berada tak jauh darinya pun mendekat. "Benarkah dia sudah bisa bicara Mbak..?!" seru senang bu Sati. Bu Nunik hanya bisa mengangguk, dengan mata yang masih beriak basah. Ya, sejak pertama kali dia melihat Elang. Entah kenapa hati Bu Nunik langsung merasa suka dan sayang sekali pada anak itu. “Aih aih, anak yang ganteng ini namanya siapa ya ?” tanya bu Sati, sambil mencubit pelan pipi Elang. “Elang Prayoga,” sahut Elang, polos dan jelas. “Wahh. Benar dia sudah bisa bicara !” seru bu Herlin. Hari itu pun suasana di panti asuhan ‘Harapan Bangsa’ diliputi oleh nuansa kebahagiaan. Ya, seorang anak lagi identitasnya bisa diketahui, walau hanya sebuah nama. Ada beberapa anak di panti, yang bahkan pihak panti sendiri yang harus memberi mereka nama. Karena mereka masih bayi saat masuk ke panti asuhan. Hari berganti bulan, dan tahun demi tahun pun berganti. Tak mengenal kata mundur. Tak terasa sudah 15 tahun lamanya, Elang berada di panti asuhan ‘Harapan Bangsa’. Itu artinya Elang sudah menginjak usia 18 tahun lebih saat itu. Elang sudah tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan cukup tampan. Tubuhnya sedang namun berisi. Karena Elang memang rajin bangun pagi, berolahraga, dan membersihkan lingkungan panti, sebelum ia berangkat ke sekolah. Rambutnya berombak tebal, matanya bening dan tajam, dengan tinggi badan sekitar 178cm. Elang baru saja lulus SMA sebulan yang lalu. Banyak teman sekolahnya dulu yang suka mampir di panti. Untuk sekedar ngobrol dan bertanya, soal tugas-tugas sekolahnya. Elang memang anak yang cerdas dan rajin di sekolahnya. Pembawaannya juga supel, sehingga baik teman lelaki maupun wanita banyak yang menyukainya. Bahkan para guru pun menyayangkan, saat Elang tidak melanjutkan pendidikkannya ke perguruan tinggi. Akibat keterbatasan keuangan pihak panti asuhan. “Maafkan ibu ya Elang. Semua perhiasan dan barang berharga di panti ini, jika ibu jual juga belum cukup untuk membiayai kuliahmu Nak,” ucap bu Nunik, yang kini sudah agak renta. Namun tetap berkeras mengelola panti asuhan. “Sementara adik-adikmu juga masih harus meneruskan sekolah mereka. Minimal hingga SMA seperti dirimu Elang,” ucap bu Nunik lagi. “Tak apa-apa Ibu. Elang nggak harus kok melanjutkan ke perguruan tinggi. Yang penting adik-adik bisa terus bersekolah. Elang akan mulai mencari pekerjaan apa saja besok ya bu,” ucap Elang dengan hati trenyuh. Sesak hati Elang, mendengar bu Nunik sampai hendak menjual perhiasan dan barang berharga di panti. Agar dia bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. “Maafkan ibu, Elang,” ucap serak bu Nunik. Dia sangat menyayangkan predikat Elang, yang menjadi bintang pelajar di sekolahnya. Namun keadaan memaksanya harus berakhir seperti itu. “Tak apa Ibu sayang,” ucap Elang seraya mendekap bu Nunik. Perempuan yang telah dianggap, sebagai ibu kandungnya sendiri itu. Elang sangat patuh dan sayang pada ibu yang satu ini. Karena ketulusan hati Bu Nunik telah dirasakannya, sejak ia masih kecil. Malam itu....แม้จะให้ทั้งยาบำรุง ทั้งตัวยาสารพัดที่ช่วยป้องกันเหตุไม่คาดคิด ก็ยังเกิดเรื่องให้ครรภ์ของฮองเฮาได้รับความกระทบกระเทือนโดยตรง แม้ไม่ได้รับยาแท้งบุตรที่พระราชชายาป๋ายอ๋องจงใจใส่ในน้ำแกง เนื่องจากนางกำนัลที่พระราชชายาหลงไว้ใจให้ไปตักน้ำแกงมาให้ ที่แท้แล้วเป็นสายลับจากกองทัพทมิฬผู้หนึ่ง จึงเพียงได้รับพิษโลหิตไม่แข็งตัวจำนวนหนึ่ง และแม้ว่าแท้จริงแล้วครรภ์ไม่ถึงกับได้รับความกระทบกระเทือนจนเป็นอันตราย ทว่าฮองเฮาในยามนั้นสภาพจิตใจเปราะบางเป็นอย่างยิ่ง เพียงเห็นโลหิตหลั่งออกมาก็หวาดกลัวจนแทบประคองสติเอาไว้ไม่ไหว ทั้งฝ่าบาท ตน และหมอหญิง ต่างต้องใช้ความพยายามในการปลอบขวัญฮองเฮามากกว่าการรักษาครรภ์เอาไว้เสียอีกเทียนหลงฮ่องเต้ทั้งห่วงใยสงสาร ทั้งกลัวว่าฮองเฮาและบุตรในครรภ์จะได้รับอันตราย ทั้งโกรธแค้นคนเหล่านั้นจนนัยน์ตาแดงก่ำ ทว่ายังมิได้ถึงขั้นขาดสติ ทรงใช้โอกาสนั้นสะสางเรื่องฝั่งครอบครัวเดิมของฮองเฮา ทั้งยังตัดบ่วงทั้งหลายที่รัดรั้งคอพระนาง...บีบคั้นให้พระนางคิดว่าตนเองไม่อาจมีชีวิตอยู่ในโลกนี้ ขาดสะบั้นในคราวเดียวฮองเฮาคิดว่าตนเองติดค้างผู้ชราเช่นตนและหมอหญิงที่ทำการรักษามากมายนัก ทว่าแม้จะผ
ด้านหลังเรือนหลักถูกจัดเป็นสวนไม้ใบและสระเลี้ยงปลาสวยงาม ใจกลางสระยังมีกอบัวชูช่อเบ่งบานงามตระการ ก้นสระปูด้วยหินที่ตัดจนเรียบ น้ำจึงใสสะอาดอย่างยิ่ง ยามเมื่อสายลมโชยพลิ้ว ใบหลิวร่วงหล่นแตะผิวน้ำ จะเกิดภาพวงกลมน้อยใหญ่ซ้อนกันหลายชั้น ต่างค่อยๆ ขยายใหญ่ออกแล้วเลือนหายดุจสัจธรรม พาให้ผู้มาเยือนที่ทันสังเกตธรรมะนี้ สุขสงบไปทั่วทั้งวิญญาคู่สามีภรรยาที่สูงส่งที่สุดในใต้หล้า ประคองกันเดินไปครู่หนึ่ง ก็พบว่ารัชทายาทจีเฉิง กำลังนั่งประชันหมากกระดานจากต่างแดนกับ ‘ท่านอาจารย์’ โดยมีอีซีซวน คุณชายใหญ่ของจวนแห่งนี้คอยเฝ้าสังเกตอยู่ด้านข้างโหรวเลี่ยงหรูฮองเฮาแย้มยิ้ม ไม่ถือยศศักดิ์ ค้อมศีรษะคำนับผู้มีคุณกลับเป็นผู้ชราที่ตกใจ ไม่อาจรับคำนับจากสตรีที่สูงศักดิ์ที่สุดในแผ่นดินได้“ฮองเฮา ฝ่าบาท!” ผู้อาวุโสอวิ๋นลุกขึ้นจากที่นั่งแทบไม่ทัน กำลังจะคุกเข่าถวายพระพร กลับถูกลูกศิษย์อีกคน หยางหยาง...บิดาของศิษย์คนสุดท้ายที่รับไว้อย่าง ‘หยางจื่อ’ ยกมือห้ามปราม“ท่านอาจารย์เกรงใจเกินไปแล้ว ที่นี่มีแค่พวกเรา ทำตัวตามสบายเถิด”“ถูกแล้ว” โหรวเลี่ยงหรูฮองเฮาแย้มยิ้ม “ครั้งนั้น หากไม่ใช่ท่านอาจารย์ช่วยไว้ ข้ากับล
“ฮึ! ดูพูดเข้า เช่นนั้นหากผู้อื่นโจษจันกันทั่วทั้งเมืองเล่า ท่านเจ้าเมืองจะจับชาวเมืองตั้งไม่รู้กี่ร้อยครัวเรือนมาลงโทษหมดเลยหรือ” ซูเซียงยกมือขึ้นคำนับพลางกล่าว “ฮองเฮาของข้าไม่ละเว้นท่านแน่! ฝ่าบาทผู้เมตตาเองก็เช่นกัน!” กล่าวจบนางก็เชิดหน้าขึ้น ทว่าดวงตาฉ่ำน้ำที่จ้องมองมา หวานซึ้งนัก“เอาเถอะ” อีเหิงพ่นลมหายใจออกมา แต่แววตาที่มองฮูหยินกลับหวานซึ้งร้อนแรงอย่างเห็นได้ชัด เขาโบกมือส่งสัญญาณให้พ่อบ้านต่งเพียงเท่านั้นพ่อบ้านต่งก็รู้ความนัย ใช้สายตาสั่งให้ทหารยืนยามไปลากตัวลู่เฟยฮวาออกมายืนรอท่านเจ้าเมืองอยู่ด้านข้างจัดการแมลงรบกวนความสงบของจวนและนายเหนือหัวแล้ว อีเหิงก็หันกลับไปคำนับผู้เป็นนาย กล่าวอย่างนอบน้อม“ฝ่าบาท รัชทายาทกับท่านราชครูอยู่ที่ศาลาแปดเหลี่ยมที่ย้ายไปไว้ทางด้านหลังพ่ะย่ะค่ะ”“อืม...แล้วบุตรชายคนโตของเจ้าเล่า ได้ยินว่าชื่ออะไรนะ อีซีซวน ชื่อนี้ใช่หรือไม่” เทียนหลงฮ่องเต้อดถามถึงมิได้“รัชทายาททรงมีจิตใจกว้างขวาง ไม่ถือพระองค์ เมื่อรู้ว่าซีซวนสนใจเรื่องหมากกระดานเช่นกัน ก็ชักชวนบุตรชายของกระหม่อมที่ทำเป็นแต่ท่องตำราคัดอักษรไปวันๆ ไปศึกษาหมากกระดานรูปแบบใหม่ ตอนนี้จึงอย
ใช่ว่านางใจไม้ไส้ระกำทำร้ายสตรีด้วยกันลงคอ ทว่านางเองก็มีมือมีเท้า มีครอบครัวที่รักและหวงแหนให้ปกป้องยามนี้เกิดมีเด็กสาวผู้หนึ่ง มาทำลายความสงบสุขของครอบครัวนาง เป่าหูเสียจนคุณชายใหญ่ของตระกูล อีซีซวน เก็บตัวอยู่แต่ในเรือน ทั้งยังทำร้ายบุตรชายบุตรสาวของนาง ยุยงให้เด็กๆ แตกคอกัน เพียงเพราะคิดปีนป่ายขึ้นที่สูง หวังจะให้ฮูหยินอย่างนางถูกสามีรังเกียจ ในฐานะสตรี ภรรยา และโดยเฉพาะอย่างยิ่ง ‘ฮูหยินของจวน’ นางจะอยู่เฉยได้อย่างไรงานซักล้างเป็นงานหนักที่ทำให้สภาพร่างกายทรุดโทรม งานตักบ่อเกรอะนั้นก็ทำให้ผู้คนรังเกียจ ทั้งยังเป็นงานที่ต้องอยู่กับกลิ่นเหม็นและต้องทำกลางดึกเท่านั้น หากไม่ระวังก็อาจล้มป่วย ติดโรคจากสิ่งสกปรกเหล่านั้นได้ง่ายๆ ไม่แน่ว่าหลังทำงานเหล่านี้ไปได้สามเดือน ความงามที่เห็นในยามนี้จะหลงเหลือเพียงแค่เศษซาก ไร้สิ้นเค้าโครงความงดงามอะไรนั่น ถึงตอนนั้นต่อให้บุรุษของนาง ท่านเจ้าเมือง เกิดเปลี่ยนใจ อยากเรียกหา เกรงแต่ว่าเพียงเห็นหน้าเสี้ยวเดียวจะรีบไล่ลู่เฟยฮวากลับไปยังเรือนพักของนางแทบไม่ทันอีเหิงเห็นว่าบรรยากาศดีๆ กลับถูกบุตรสาวของกุนซือฉ้อฉลทำลายลง ก็หงุดหงิดไม่น้อย เขาลอบสังเ
เพื่อให้ขาวและดำสัมพันธ์ เกิดสมดุลดังเทพพยากรณ์ ต้าอ๋องเฮยเซ่อเย่ว์ จีเจิ้นเทียน พระนามเมื่อขึ้นครองบัลลังก์ เทียนหลง และองค์หญิงรองแคว้นป๋าย หนิงซิน สตรีศักดิ์สิทธิ์ที่แม้หลังฟื้นคืนชีพจะสูญเสียพลังศักดิ์สิทธิ์ จึงต้องกลับคืนสู่สถานะเดิม แต่งงานเชื่อมสัมพันธ์ รวมใต้หล้าเป็นปึกแผ่น สถาปนาอาณาจักรต้
ซูเซียงฟังผู้เป็นบิดาอย่างฝ่าบาทยกเรื่องพี่ชาย จีเฉิง มากล่าวกับบุตรชายคนรองแล้ว ก็อดนึกถึงเรื่องราวในอดีตไม่ได้นึกถึงเรื่องในอดีตครั้งนั้นคราใด นางยังคงรู้สึกผิดไม่หายหากครั้งนั้นองค์หญิงหนิงซินของนางสูญเสียบุตรชาย เรื่องอาจไม่ซับซ้อนเท่านี้ ทว่าสำหรับนางแล้ว นางยอมรับว่าทันทีที่เห็นบุตรชายคนโตข
กลางอุทธยานกว้างขวางในเรือนหลัก ยามนี้ขยายกว้างขึ้นหลายเท่า ทั่วทุกพื้นที่หากไม่ประดับด้วยหินหรือขุดเป็นธารเลี้ยงปลาสวยงามกรุหินแน่นขนัด ก็เพาะปลูกดอกไม้ไว้แน่นหนา วัดจากการที่ดอกไม้นับไม่ถ้วนล้วนพร้อมใจกันเบ่งบานได้เช่นนี้ ไม่ต้องบอกก็รู้ได้ ว่าเจ้าของจวน โดยเฉพาะอย่างยิ่ง เจ้าของเรือนหลัก ใส่ใจอุ
นับว่ายังดีที่สามีตัวดียังยินยอมให้นางได้ดูแลบุตรชายทั้งสองในแบบของนางบ้าง จากที่เคยตกปลาไม่เป็น นางจึงได้เรียนรู้วิธีการตกปลาไปพร้อมๆ กับบุตรชาย ได้สอนพวกเขาปลูกดอกไม้ต้นไม้ดังที่เคยทำเมื่อสมัยอยู่ในวังที่เกิดและเติบโตมาในแคว้นป๋าย และได้ฟื้นฟูความรู้ด้านการยิงธนูที่มารดาเคยสั่งให้เลิกฝึกฝน เมื่อพ






reviews