LOGIN由宇子は、2人の子供と夫との4人暮らし。幸せな日々を過ごしていた。 夫の将康は、仕事大好き人間で由宇子の反対をスルーし、会社から転勤を 命じられると迷うことなく、1人嬉々として単身赴任先へと赴く。 将康は、既婚者でありながら、社内社外で非常にモテる男であった。 しかし、彼自身は決して浮気性な人間ではないので、妻の由宇子が心配するようなことは、何もないのだが。 ただ、脇の甘い将康に、近づいてくる独身女性たちがいて、妻が聞いたらば眉を顰めそうなことばかり将康はおこすのだった。 そのような中、由宇子はひょんなことから夫のある胸の内を知ることになり、 絶望する。そして──由宇子は自分を守るために行動を起こすことに。
View MoreGoldwin Estate, kawasan perumahan mewah di tengah kota Bandung itu berkilau disinari matahari pagi ini. Di salah satu unit dua lantai di kawasan itu tercium aroma daging sapi yang dipanggang. Tampak di sana seorang wanita muda berkacamata minus dengan rambutnya yang dikuncir ekor kuda, tengah tekun menyiapkan makanan untuk mertuanya.
Dahlia, perempuan muda berusia 25 tahun dengan berat badan 65 kilogram itu begitu telaten membuat makanan enak untuk keluarganya. Tapi keikhlasan hatinya itu harus terganggu dengan cibiran ibu mertuanya yang pedas.
“Lia, masih belum siap juga? Masak apa, sih, kamu? Sengaja mau buat mertua kamu kelaperan, ya?!” dari belakang Dahlia, suara sang ibu mertua—Bu Bani, mendekat.
Belum lagi Dahlia menjawab, tangan sang ibu mertua langsung mencomot masakan Lia yang sudah lebih dulu diletakkan di piring saji, “Apaan, nih? Asin banget.”
[Meludah]
“Memang beneran sengaja mau buat mertua kamu modar cepat, ya? Mana bisa ibu makan makanan yang garamnya sekilo gini!” sambung Bu Bani mengejek masakan Dahlia. Tapi tetap saja wanita itu menyuapi sisa daging ‘asin’ di tangannya ke dalam mulut.
“Kamu itu bisanya apasih? Bisa-bisanya makan gaji buta aja! Kasihan banget anak saya gaji istri nggak guna kayak kamu. Cantik nggak, tambah gendut iya. Minimal bayar pembantu kalau kerjaan kantor kamu banyak!”
Dahlia yang murung hanya bisa menghela napas berat sambil mengelap keringat di dahinya. Posturnya yang bertubuh subur itu memang lebih mudah berkeringat, apalagi di dapur yang notebene berhadapan dengan paparan api kompor.
“Ibu…” ucapnya yang kini terpaksa mengubah kemurungan menjadi senyum seolah tidak terjadi apa-apa, “Maafin aku ya kalau keasinan. Lagian dari tadi aku udah tanya ke Ibu bolak-balik, tapi Ibu terus bilang terserah, kan, Bu?”
Jawaban Dahlia tidak bisa dibantah karena benar, itu juga karena mulut sang ibu mertua sedang sibuk mengunyah comotan daging yang sudah keberapa kalinya dari piring saji tadi.
Melihat itu Dahlia kembali memperhatikan daging panggangnya.
“Lia, ambil cuti. Ibu nggak mau tahu, minggu ini kita ke rumah sakit!”
Dahlia kembali menoleh ke belakang, “Ibu sakit? Biar aku panggilin dokter langganan aja. Ibu mau?”
“Nggak usah pura-pura terus kenapa, sih?” seketika celetukan Ibu Bani kembali membuat Dahlia murung. Ia mulai tahu inti pembicaraan ini.
“Kamu sama Juan itu udah setahun nikah, kan? Habis nikah, Juan masih di Bandung sama kamu. Tapi kamu kok belum hamil? Itu nggak jelas jadi masalah di mata kamu?”
“Mau pura-pura nggak ngerti apa memang kamu yang nggak sadar diri, sih? Apa harus banget kamu dengar dari ibu kalau kamu itu perempuan man—“
Dahlia sudah tidak tahan. Ia mematikan api kompor dan kemudian berbalik, “Ibu, makasih banget Ibu peduli sama kami. Tapi bukannya aku yang nggak ngerti atau nggak peduli. Ini pasti karena Mas Juan yang belum bilang ke Ibu, kan?”
“Bilang apa?”
Deg…
Bibir Dahlia terkatup seketika. Tidak mungkin dirinya mengatakan hal yang sebenarnya pada sang ibu mertua bahwa anaknya itu tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Dan kalaupun semua ketahuan, sudah pasti kekurangan fisiknya yang akan disalahkan.
“Mas Juan bilang kami harus pergi ke rumah sakit berdua aja. Tapi tunggu dia punya waktu luang. Ibu juga tau, kan, sebelum tugas ke Papua, banyak panggilan kantor yang bikin kepala Mas Juan pusing. Yang begituan juga pasti ngaruh buat pembuahan, Bu,”
“Nanti, waktu udah balik dan kalau capeknya Mas Juan udah hilang, kami bakalan ke rumah sakit bareng kok, Bu.” Dengan senyum yang terus ia paksakan, Dahlia menjelaskan dan sang ibu mertua akhirnya menyerah.
“Ya udah, ibu bisa ngerti urusan pribadi kalian. Tapi coba dengar ibu yang satu ini, Lia,” ucapnya lagi dan Dahlia semakin serius mendengarkan, “Ibu dengar kamu diangkat jadi kepala manager cabang Bandung. Kerjaan kamu pasti tambah banyak, kan? Trus program hamilnya kapan kalau kamu sama Juan sama-sama capek?”
‘Ah, itu toh yang mau dibahas dari tadi,’ batinnya miris berucap.
“Aku juga maunya gitu, Bu. Tapi keputusan soal jabatan kantor mutlak dari atasan. Mereka juga nggak sembarangan naikin jabatan, toh. Kalau ada yang lebih baik dari Lia, ya monggo aja,”
“Kan ada suami kamu. Apa kamu nggak bisa promosiin Juan? Masa suami jabatannya kalah sama istri? Kejam banget kamu, ya!” Bu Bani kembali ketus saat merasa Lia sungguh tidak bisa diandalkan untuk penopang karier anak tunggalnya itu.
“Ya walaupun Mas Juan itu suami aku, mana boleh gitu, Bu. Ini bukan perusahaan keluarga kita. Yakin aja, nanti ada waktunya Mas Juan dipromosikan jadi Manager senior. Selama nggak banyak ngeluh dan kerjanya bagus, itu bakalan dikasih apresiasi tinggi, kok,” masih dengan senyuman, Dahlia menjawab tenang.
“Kamu ini, terus aja ngejawab yang ibu bilang. Durhaka tau! Ibu mertua atau ibu sendiri juga sama, sama-sama orang tua kamu,” Bu Bani mulai geram.
“Oh, iya. Ibu lupa. Kamu, kan, memang anak yatim piatu yang nggak punya orang tua dari lahir. Gimana mau tau caranya hormatin orang tua? Pernah jadi anak angkat, tapi sayang ibunya cepet banget meninggalnya,”
“Lagian kamu itu kenapa nggak bisa nurut aja kayak si Nila? Dia tuh perempuan idaman mertua. Udah cantik, karier bagus, nurut sama orang tua pula. Nggak nyangka aja kalian dari panti asuhan yang sama, tapi beda banget sifatnya.”
“Bu, tolong jangan—“
[Ding Dong…]
Baru saja Dahlia ingin menjawab agar ibu mertuanya berhenti menghina dan membandingkan dengan sahabatnya sendiri, tapi suara bel pintu membuyarkan percakapan mereka.
Bu Bani begitu cepat melangkah ke depan pintu, “Ya ampun, kok cepet banget datangnya, sih?” gumamnya sambil bergegas membukakan pintu, “Wah, udah pada datang, ya. Masuk-masuk, Jeng!” sambut Bu Bani dengan gembira. Ya, ternyata dia mengundang teman-teman sosialitanya datang ke rumah anak dan menantunya.
Terlalu menggemari hobby barunya bermain media sosial membuat Bu Bani lupa daratan. Yang awalnya hanya petani bawang merah di kampung, dan setelah Juan menikahi Dahlia di kota, membuat taraf harga dirinya kepentok langit.
Sementara Dahlia hanya bisa mengelus dada dan menghela napas tidak berdaya, ‘Ibu kok nggak bilang-bilang mau ngajak temannya ke sini? Masih pagi banget juga. Padahal hari ini aku udah bilang mau pergi belanja sebentar… ah, ya udah deh…’ batinnya lagi.
Begitulah hidup Dahlia yang berat. Ia harus mengalah dan menuruti apa yang ibu mertuanya katakan. Bagaimana pun juga, ibu mertua yang cerewet seperti Bu Bani tetaplah orang tua baginya. Dihina dan dibanding-bandingkan dengan sahabatnya—Nila, juga bukan hal baru di setahun pernikahannya dengan Juan.
“Lia, bikin minum buat tamu saya, ya!” panggilan yang tiba-tiba formal dari sang ibu membuyarkan lamunan sesaatnya.
“Iya, Bu…” sahutnya dari dapur. Sepuluh menit setelah itu Dahlia terlihat membawakan nampan berisi lima cangkir teh kosong dengan sebuah teko berisi teh melati.
Ia menuju ruang tamu untuk menyajikan teh dengan beberapa camilan untuk tamu mertuanya, “Silakan dinikmati, Ibu-ibu…”
“Wah, menantu Jeng Bani manis, ya? Ramah banget lagi,” salah seorang ibu memuji kesopanan dan keanggunan Dahlia. Tampak wajah Bu Bani terlihat tidak senang, tapi tidak mungkin ia menyangkal pujian pada menantunya itu.
“Ayo, silakan dicicip-cicip, Jeng. Bentar lagi kita sarapan bareng, ya. Pada belum sarapan, kan? Habis jogging pasti laper, dong, hahaha!” ajak Bu Bani mengalihkan pembicaraan dan pujian pada Dahlia. Dari belakang, tangannya seolah mengusir Dahlia dari sana.
Dahlia mengangguk singkat dan pergi dari sana. Tapi bukannya kembali ke dapur, ia malah menuju kamarnya. Tubuhnya yang sudah banyak berkeringat mengharuskannya mandi.
Di bawah guyuran shower yang membasahi tubuhnya, Dahlia mengeluarkan air mata sedih, “Sampai kapan Ibu bakalan sayang ke aku? Padahal aku sayang banget sama Ibu,”
いや、確かに彼が自分に(単身赴任を8年し、帰宅してみたら俺の妻が 元妻になって彼の妻になっていたという、あの別ワールドとしか言うこ とのできない)あのコトについて話しかけてきたのは現実のことだと思う。 そっか、やっぱり。 あちらの世界も続いているんだ。 あっちで寂しい生活を送っている俺のことは気に掛かるが、 どうしようもない。 また日常の忙しさにかまけて妻に寂しい思いをさせたり蔑にしたりすれば、 あちらの世界に戻されそうな気がする。 もうすでにあちらに俺が存在するのなら、こんな言い方は変だが。 とにかく俺は今ある幸せを大事にしようと思った。 当たり前にある幸せは、当たり前じゃないのだから。 ◇ ◇ ◇ ◇ それなのに、やっぱりこちら側でも気が付くと俺は妻から離婚を 突きつけられ、独りに戻った。 喧嘩などなかったじゃないか。 家族サービスも頑張った。 できる時は、ちょっとした家事なども手伝ったし。 それなのに何がいけなかったというのだろう。 結局はこちらでも離婚されてあちら側と同じに なってしまい、笑うしかなかった。 最初離婚された時は、幸いなことに由宇子の不満とその呟きを 思い出したことで、こちら側に飛んでこれた。 だが、今回は原因が分からない。 どこが不満なのか教えて欲しいと俺は由宇子に問うた。 今回も由宇子は聞こえるか聞こえないかの声音で呟いた。 「蛇の生殺し。 あなたといると蛇の生殺しなの。 だからもう耐えられない」「どういうこと? 何のこと?」 だが、元妻は頑として口を割らなかった。 理由が分からないので修復のしようがない。 そのせいか? もう俺は2度と由宇子や子供たちと暮らす新しい別ワールドへ飛んでいく ことはできなかった。 その後、俺は誰とも再婚しなかった。 ◇ ◇ ◇ ◇ 還暦を迎えたある黄昏時、散歩がてらに寄った公園に腰掛けていると、 子供を遊ばせながら話している小さな子連れの女性ふたりの会話が 聞くともなしに聞こえてきた。 片方の女性が放った言葉が胸に刺さった。 それはずっと長年どういう意味だったのだろうと、苦しい思いで 胸に抱えていた元妻の言葉と同じだったから。 「私、離婚しようと思うの」
夢なのか何なのか、とにかく単身先の俺の8年はなくなり、本来失くしてしまったはずの家族との生活が8年を過ぎていった。 とにかくどちらが現実でどちらが夢なのか――タイムスリップからのパラレルワールドというヤツなのか、いろいろ考えうる思考を働かせてみたが全く見当もつかない。 俺自身の気が変になったって可能性もあるのかもしれないが、俺はこちら側の妻や子供たちと暮らしている世界にずっといたいと思う。 あのぞっとするような地球上で独りボッチになったような感覚に陥った苦しい現実世界には戻りたくなかった。 由宇子のあの時の呟きを思い出そうとした……思い出した俺へのご褒美なんだきっと、と俺は考えた。 俺の意思が反映しているのか、そのまま俺は家族と一緒にいる世界でずっと過ごせている。 今では単身赴任先へ行ったほうの生活こそが夢だったのかと思うほどになっている。 ◇ ◇ ◇ ◇ 夏になって妻の従姉弟が遊びに来た。 相変わらず綺麗な男だ。 昼食の後、子供たちにせがまれた妻が子供たちを連れて近所のロー○ンまで出かけた折、従姉弟の薫くんが言った。「大倉さん、こちら側の世界に来れたんですね、残念。 俺折角由宇子ちゃんと結婚できたのに、フフっ」「えっ?」「大倉さん、あちらの世界のこと覚えてますよね?」「えっ、君は……」「……っていうか、あっちでは由宇子ちゃんと結婚して幸せにやってるので僕はこちらでは我慢しますよ?」「君、何を……その知ってるんだ?」 シレっと恐ろしい? ことを囁いた薫くんは俺の質問に答えることはなかった。 さっきの囁きは聞き間違えで幻聴だったのかと思えるほど、今まで通りの彼で、先ほど俺に意味深なことを話しかけてきた時の顔つきはもう、彼の表情のどこにも見ることはできず、それ以上の会話は望めなかった。
胸に痛みを感じた俺が涙目で顔を上げると、驚いたことに当時の部屋にいて、側には由宇子がいた。 えっ? 俺は夢を見ているのか? 脚を抓《つね》ってみた。 イタイっ! 元妻が言った。「ねぇ、会社からの強制じゃないなら単身赴任は止めてもらえない?私も子供たちを連れて一緒に行ければいいけれど、こちらで自営(税理士)のお客様もたくさんついてるし、子供のこともあるし何年で帰ってこれるかだけでも確定していれば、策も練らられるけれど、それも分からないでしょ? 中途半端でまたこちらに帰ってくることを考えたら、就学時期を跨ぐ形になる子供たちにも大きな負担を強いることになるし――。だからってあなたにすぐにひとりで行かれたら私、不安だわ。 いろいろと……」 あの日と同じ台詞だ。 夢か幻か……エエイっ、夢幻でもいい元妻が俺に不安だと言ってるんだ。 ちゃんと答えろ、オレ。「分かった、わかったよ。 仕事も大事だが君と子供たちが一番大切だからね。 俺も家族とは離れたくない。 すまない、この話しは忘れてくれ。 これまで仕事優先にしてきて申し訳なかったな。 これからもよろしくお願いしたい」「あーっ、よかった」 元妻は涙目で言った。「あなたが単身赴任決めちゃったらどうしようかって思った。 私たちのことを一番に考えてくれてほんとにうれしいわ。 ありがとう。 力一杯お仕事させてあげられなくてごめんなさい。 私のほうこそ、これからもよろしくお願いいたします」 俺たちの間には暖かい空気が流れていた。 どうなってるんだ? 俺は時空の違うふたつの世界を行ききしたのか? それとも単なる夢で、ずっと夢なのか。 そのまま俺は元の家族との夢の中? での生活が続いた。 会社でも俺は単身赴任しておらず、別の者が内定し単身赴任先へと旅立っていた。 ◇ ◇ ◇ ◇ 月日は流れ8年後 そして会社の件の同僚女子は独身のままだ。 このままだと以前というか、別ワールドで単身赴任先から帰ってきた後の彼女との会話も勿論ないのだろう。
それは単身赴任を受ける話をした日の、元妻の姿と反応だった。 俺は妻のことを知らず知らずのうちに、蔑にしてたのだろう。 あの時、由宇子は俺に何かをポソッと呟いてた。 俺はソコを華麗にスルーしていた。 どうして今になってそのシーンが蘇ってきたのだろう。 大事なことだからかもしれない。 俺は由宇子の呟きを思い出そうと努力した。 何度か記憶を手繰り寄せてはその声無き声を聞き取ろう、思い出そうとした。 まずは前後の会話を思い出すことからはじめてみた。 ◇ ◇ ◇ ◇「ねぇ、会社からの強制じゃないなら単身赴任はやめてもらえない? 私も子供たちを連れて一緒に行ければいいけれど、こちらで自営(税理士)のお客様もたくさんついてるし、子供のこともあるし。 何年で帰ってこれるかだけでも確定していれば、策も練られるけれど、それも分からないでしょ? 中途半端でまたこちらに帰ってくることを考えたら、就学時期を跨ぐ形になる子供たちにも大きな負担を強いることになるし……。 だからってあなたにすぐにひとりで行かれたら私、不安だわ。 いろいろと……」*「今までだって単身赴任のようなものじゃないか! 申し訳ないとは思うけど、長時間勤務や出張で子育てには参加できてないし、ただ寝に帰ってるようなものだしね。 心配しなくてもあんまり君たちの環境は変わらないと思うよ?」 あっ、そうだった。 俺のこの台詞のあと、元妻が何かぼそっと言ったんだった。 俺は頭の中で繰り広げられる過去の会話の中の肝心の元妻の次の台詞をじっと待った。「そっか、ならいいや。もういらないや」 あの時は聞く耳持たずスルーしていた元妻の言葉が、すっと耳にはっきりと入ってきた。「ならいいや、もういらないや」 あの時、元妻は俺のことをもういらないとはっきり言っていたのだった。 大切な元妻《ひと》からの大事な言葉を、いとも簡単にスルーしてた自分の態度に、頭を抱えたくなった。 頭の中がガンガンしはじめ、胸が苦しくなってきた。
「へえ~、君のお母さん確かに最強だわ。 参ったな。 そんな最強の後釜候補が待ってるって知ってたら、俺……」「由宇子ちゃんを置いて行かなかったですか?」「そうだね、怖くて置いて行けなかっただろうね」「知らぬが仏っていうヤツですね。大倉さんが単身赴任で行ってくれてほんとに良かったですよ僕にとってはね。あっ、すみません。 でも大倉さんはそんなにダメージないですよね? 大好きな仕事に8年も没頭できたんですもんね。 由宇子ちゃんから聞いたことありますよ。 大倉さんってすごくモテるらしいですね。 すぐに大倉さん好きな女性きっと……いや絶対できますって、安心してください。 由宇
所謂面会っていうヤツなんだけど、元夫と子供たちを合わせる時、今の夫に子供たちを連れて行ってもらい、迎えに行くのも今の夫に頼み、一切私は関わらないようにした。 何度目かの時に薫に聞かれた。「どうして由宇子ちゃんは一緒に行かないの?」「世界中で薫のことが一番好きだからよ」「好きだからって……うん? どうして僕と一緒に行かないの?」「私が一緒に付いて行って元夫と会うようになって、また元夫を好きになって薫と別れて元夫のところに行ってしまっても薫はいいの? 悲しくならない?」「なぁに言ってんのさ。嫌に決まってるだろ。 やめて欲しい、由宇子ちゃん。そんなこと言うの」「でも私
夫が単身赴任してから8年後の現在 今なら薄っすらと分かる。 当時は想像もつかなかったコト。 元夫はモテる男《ひと》だった。 だからSEXの経験値については、高いのだと当たり前のように そう思っていた。 おそらくは、私の勝手な思い込みだったのだと思う。 彼はモテる人ではあったけれど、性のほうの経験値は 多くなかったのだろうと今なら分かる。 自分の経験値が上がった今だからこそのことだ。 性の喜びを感じられないのは自分の…… 自分の肉体のせいかもしれない、そんな不安を持っていた。 性のことについて元夫と気楽に話し合えないことも 少なからずストレスだっ
何とうれしい誤算! 結婚生活が始まってすぐに普通に薫とは夫婦生活があった。 初夜から薫とはスムーズに仲良しは始まった。 薫の穏やかな雰囲気とやさしい息遣いが、ゆるりゆるりと私を リードしていく。 私はただそれに付いていくだけ。 ただ心地よく、そして素直に自分をさらけ出し…… 私はおそらく初めてその夜、性の喜びというものを知ったのだと 思う。 薫の経験値がどんななのか私には分からなかったけれど、薫の行為は やさしく時に激しく、そして私がすごく感じ入ったのは、行為のはじめ方と 終わらせ方がスマートで自然だったことだ。 私は常時SEXに対してストレスを感じず