Aldrich Candra
Dia dibayar untuk menjadi teman.
Tapi tidak pernah dibayar untuk jatuh cinta.
Nabas terbiasa menemani perempuan-perempuan kesepian.
Bagi lelaki yang menjalani kehidupan sebagai penghibur bayaran, semuanya sederhana. Datang ketika dibutuhkan, mendengarkan keluh kesah, memberi perhatian, lalu pergi ketika kontrak berakhir.
Tidak ada perasaan.
Tidak ada keterikatan.
Sampai dia bertemu Anin.
Seorang wanita dewasa yang masih terikat pernikahan, hidup dalam rumah tangga yang perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya. Anin tidak mencari kekasih. Ia hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.
Maka sebuah kontrak pun dibuat.
Aturannya sederhana. Jangan melibatkan perasaan.
Masalahnya, Nabas mulai melanggar aturan itu lebih dulu.
Semakin sering Anin mencarinya, semakin sulit Nabas menganggap hubungan mereka sekadar pekerjaan. Apalagi ketika perhatian yang awalnya bisa dibeli dengan uang berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dihargai dengan nominal berapa pun.
Namun Anin tahu satu hal yang Nabas abaikan.
Perasaan adalah alasan hubungan mereka harus berakhir.
Di sisi lain, ada Kea—perempuan dari masa lalu Nabas yang kembali membawa harapan untuk kehidupan yang lebih normal.
Kini Nabas harus memilih.
Tetap menjadi lelaki yang bisa dimiliki siapa pun selama dibayar...
atau mempertaruhkan semuanya demi satu wanita yang sejak awal tidak pernah boleh menjadi miliknya.
Karena terkadang, orang yang kita kira hanya menjadi pelanggan justru menjadi orang yang paling sulit kita lepaskan.
Dan ketika kontrak berakhir, siapa yang sebenarnya menjadi budak cinta?
37.1K
15 Ulasan-ulasan
