Cinta Karena Ciuman
Sally mengambil gelas, meminum air putih dengan rakus, mencoba membilas rasa hambar dan pahit yang tertinggal di kerongkongannya.
Tiba-tiba, ia teringat bagaimana dulu ia dan Vino berebut potongan martabak terakhir. Tawa itu seolah masih menggema di sudut ruangan.
"Cukup, Sally," ia memarahi dirinya sendiri. "Itu cuma martabak. Itu cuma makanan."
Namun, hatinya membantah. Baginya, martabak bukan sekadar makanan; itu adalah artefak dari hubungan yang sudah ia usir lewat pintu depan, tapi masih menyelinap masuk lewat ingatan rasa.
Hot Chapters