Pernikahan tanpa Bahagia
“Jadi, dia sudah membuat pilihannya. Bagus. Semakin dia terluka, semakin mudah aku menghancurkannya. Luka di hati jauh lebih mematikan daripada seribu pedang.”
---
Malam itu, Aruna duduk sendirian di tepi sungai lembah. Air mengalir tenang, kontras dengan badai di dalam dirinya.
Ia menggenggam pedangnya, menatap bayangannya di air. Wajahnya tampak asing, penuh luka dan air mata.
“Tapi aku akan terus berjalan,” bisiknya lirih. “Sekalipun harus kehilangan segalanya.”
ตอนยอดนิยม