Dari Budak Menjadi Bencana
Kami juga tidak bisa membiarkannya memakan kami.
Jalan tengahnya harus ditemukan.
Dalam keheningan kami yang paling dalam, aku, mewakili Kolektif, mengulurkan sebuah pertanyaan, bukan sebagai kata-kata, tapi sebagai sebuah nada dalam medan kemungkinan:
"Apakah... keutuhan... harus berarti... ketiadaan?"
Tidak ada jawaban verbal. Tapi kami merasakan sebuah getaran, sebuah jeda dalam tarikan yang konstan. Sebuah keingintahuan yang dingin dan purba.