Luka Tak Terlihat
“Apapun yang kau pikirkan, ingatlah, kau tidak sendirian. Kau punya kami.”
Aris tersenyum kecil. Kata-kata itu memberi kehangatan di tengah dinginnya malam. Namun, rasa penasaran tentang pesan itu tetap mendominasi pikirannya.
---
Esok Harinya
Pagi itu, Aris bangun dengan tekad baru. Setelah sarapan bersama Pak Rudi dan Bu Siti, ia memutuskan untuk membicarakan pesan misterius itu dengan mereka.
“Bu, Pak, aku menerima pesan aneh tadi malam. Isinya seperti petunjuk tentang ayah aku,” kata Aris, memperlihatkan pesan tersebut di ponselnya.
Hot Chapters