BATARI
Bagi Batari, semuanya terasa terlalu halus—seolah permukaan pesta ini sengaja dibuat licin agar seseorang mudah terpeleset.
“Minumlah, Batari,” Seline menghampiri dengan gaun yang berkilau seperti sisik, menyodorkan segelas minuman merah delima. “Jangan merusak pestaku dengan wajah masammu.”
Gelas itu cantik. Terlalu cantik. Embun tipis di dindingnya berkilau, seperti permata yang sengaja dibiarkan terlihat.
Batari ragu.
Dari kejauhan, Victoria menatap tanpa kata, tanpa ekspresi, tapi tekanan itu menancap seperti paku: Minum. Atau bayar.
Hot Chapters