Samaran Terakhir
Menanti.
“Kamu tidak bisa menulis dengan warna lama,” suara Arya terdengar kembali, kini jauh tapi tak asing. “Karena warna lama terikat pada masa lalu. Kamu harus menciptakan satu warna baru warna yang hanya bisa muncul jika kamu berhenti meniru cerita siapa pun.”
Adrian menatap tangannya. Tak ada lagi panel merah, biru, hijau, atau putih. Semua telah menguap. Pilihan-pilihan itu telah membawa dirinya ke titik ini, tempat di mana pilihan tak lagi memiliki bentuk.