Ketika Istriku Minta Talak
Kedua remaja itu tergugu di pelukanku.
“Uda nyoba minta maaf?” tanyaku mengusap punggung keduanya, masing-masing dengan satu tangan.
“Belum, sih. Gak berani ….” Anita yang menjawab.
“Seorang anak hebat, gak boleh lemah! Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab! Kalau terlanjur berbuat kesalahan, harus berani minta maaf, dan berjanji, ke depannya akan bertobat. Tak akan melakukan kesalahan lagi,” tegasku.