Tidur di Barak Proyek Bersama Suami Sahabatku
Setelah jam kerja usai, aku berdiri di tengah barak dengan mengenakan gaun ketat dan stoking hitam, menyeret koperku di bawah tatapan para pria di sana.
Mata mereka seperti serigala yang melihat mangsa, tak sedetik pun beralih dari tubuhku.
Mulai dari kaki, pinggang, bokong, hingga dada.
Mereka menatap ke setiap bagian yang sensitif.
Sahabatku, Inara, yang bekerja sebagai kuli di sana, bergegas menyampirkan jaket ke bahuku. Ucapannya bernada mengeluh, tetapi tersirat rasa peduli yang dalam.