Cinta Terlarang Untuk Kakak Angkatku
Dia terasa begitu asing, seolah-olah aku adalah noda yang ingin dihapus dari jarak pandangnya.
“Aku bisa berangkat sendiri kok, Ma,” ujarku tenang, mencoba menenangkan wanita paruh baya itu agar beliau tidak perlu khawatir.
“Sama sopir ya? Biar diantar sopir rumah,” sahut papa yang sejak tadi diam.
“Aku bisa berangkat naik taksi saja, Pa. Lebih cepat lewat jalan pintas. Mama dan Papa jangan khawatir, ya. Dah, semua!”