Hai Om, Aku Calon Istrimu!
Saat mobil perlahan menjauh, aku masih berdiri di balkon dengan tangan terlipat di dada.
“Baiklah, Om Kais,” bisikku pelan, penuh tekad. “Kalau itu sainganku, aku harus naik level. Mulai besok, aku belajar jadi elegan… tapi tetep lucu. Biar kamu sadar, pilihan terbaikmu tuh bukan dia.”
Aku menatap langit yang mulai gelap, lalu menepuk pipi sendiri.
“Semangat, Binar. Pertempuran baru saja dimulai.”