MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI
"Aku adalah aspal, Nan. Aspal tidak pergi kemana-mana. Ia diam di bawah kakimu, menahan setiap langkahmu agar tidak terperosok ke dalam lumpur. Kamu bisa melupakan namaku, tapi tubuhmu akan selalu mengenali kehadiranku."
Aku mengunyah ubi itu pelan. Rasanya manis, sangat berbeda dengan rasa hambar di dalam kepalaku. Sambil makan, mataku tertuju pada sebuah buku catatan kecil yang tergeletak di atas meja kayu. Buku itu tampak usang, dengan sampul kulit berwarna cokelat tua.
"Itu apa?" tanyaku menunjuk buku itu.