Resep Rahasia Sang Pecundang
jawab Radit tergagap, mengelap tangannya yang basah ke celemeknya yang kotor.
“Aku sudah baca belasan ulasan baru tentang tempat ini,” lanjut Luna, mengabaikan alasan Radit. “Semuanya bilang hal yang sama. Aromanya surgawi, rasanya ajaib, tapi konsistensinya seperti cuaca—berubah-ubah. Ada yang bilang terlalu asin, terlalu manis, nasinya kadang sempurna, kadang sedikit lembek. Kau tahu apa artinya itu?”
Radit menelan ludah. “Saya… masih belajar.”
Hot Chapters