Dokter Tampan di Pavilliun
Saat aku dan Saina berjalan di Pavilliun sambil bergandengan tangan, Dokter tampan itu menatapku tajam.
"Dokter, apa kabar? Sudah sembuh? tangannya kok sudah tidak di perban?" sapaku.
"Baik, seperti yang kamu lihat," jawabnya sedikit ketus.
"Hebat! Dalam semalam tangannya sembuh, mulus kembali seperti semula," pujiku.
"Hanya jemariku sedikit pegal, remuk semua."
"Remuk? apanya? Ini baik-baik saja, Dok." seperti biasa, aku memeriksa jemari Dokter yang memang kelihatan baik-baik saja itu.
Hot Chapters