PERJALANAN PANJANG MERELAKANMU
"Maaf, aku yang bodoh. Aku tidak bisa membaca arti sebenarnya dari perpisahan yang kamu minta, andai aku memakai logika ... bukan hati, pasti aku tidak terlambat mengetahui masalah sebesar ini. Aku nggak bisa membiarkan kamu pergi dengan cara begini, Bhama ... bangun ...."
Utari terpejam, entah kalimat apa yang sepadan dengan kesedihannya kali ini, mungkin tidak ada. Dia hanya tahu, ada rasa tenang yang menyusup perlahan ke hatinya saat dia memeluk gundukan tanah dan sepotong kayu yang menjadi gerbang keabadian Bhama. Seolah, dia tengah memeluk Bhama.
Hot Chapters