Melihat detail visualnya, aku langsung kepikiran betapa dalamnya warisan budaya Jepang meresap ke dalam tiap panel karya Gege Akutami.
Gaya monster, kutukan, dan suasana kelam di 'Jujutsu Kaisen' sering berakar dari tradisi folklor seperti yokai, onryō, dan konsep najis atau 'kegare' yang lama hidup dalam budaya Jepang. Aku suka bagaimana unsur-unsur itu dikemas ulang jadi metafora modern: kutukan bukan cuma mahluk menakutkan, tapi juga manifestasi trauma sosial, rasa malu, dan rasa bersalah — tema yang resonate banget di masyarakat yang menekankan harmoni dan reputasi kelompok.
Selain folklore, struktur masyarakat Jepang juga terlihat memengaruhi hubungan antar karakter: hierarki, rasa hormat pada senior, dan tekanan kolektif muncul lewat dinamika antara siswa dan guru, serta kode etik dalam organisasi jujutsu. Bahkan estetika visual—kontras gelap-terang, penggunaan ruang kosong, dan komposisi panel—sering mengingatkanku pada prinsip tradisional seperti wabi-sabi dan estetika negatif yang memberi makna pada yang tak terlihat. Itu bikin serial terasa lokal banget sekaligus universal, karena tema trauma dan tanggung jawab itu bisa diterjemahkan ke banyak budaya.
Pada akhirnya aku merasa karya Akutami jadi jembatan: memanfaatkan akar budaya Jepang untuk menyampaikan cerita modern yang tetap relatable, dan itu salah satu alasan kenapa aku terus balik lagi untuk membaca.