PEMBALASAN UNTUK SAHABAT TUKANG HASUT
Air mata tumpah tanpa bisa kucegah, membayangkan rumah tangga yang kujalani akan berakhir dengan sia-sia.
Perlahan aku berbaring. Saat ini, tak hanya raga, pikiran pun terasa lela. Baru saja kepala ini menempel di bantal sofa, ponselku berdering. Tak ada niat untuk meraih benda pintar tersebut, enggan rasanya untuk sekedar melihat siapa yang menghubungi.
Sampai larut malam aku masih meringkuk di sofa. Memikirkan apa yang akan kulakukan seandainya terjadi perpisahan, dan jika memilih bertahan, apa aku bisa melewatinya? Mengapa sesakit ini, Tuhan?
Bab Populer