Menggali imaji yang kuat dimulai dari melibatkan semua indera—bukan sekadar visual. Bayangkan adegan hujan: bukan hanya tetesan yang jatuh, tapi aroma tanah basah, desis angin lewat daun, rasa dingin di kulit, bahkan sentuhan kerikil licin di bawah kaki. Aku sering bereksperimen dengan menulis deskripsi sambil memejamkan mata dan mengingat pengalaman nyata, seperti saat pertama kali melihat laut. Garis horizon yang kabur, gemuruh ombak seperti nafas raksasa, rasa asin yang menempel di bibir—detail kecil ini membangun dunia yang 'terasa'.
Metafora dan simile juga senjataku. Daripada mengatakan 'wanita itu cantik', lebih baik gambarkan 'senyumannya seperti neon di tengah hutan—menyala, memanggil, tapi sedikit liar'. Analogi yang tak terduga membuat pembaca terhenti sejenak dan berpikir ulang. Tapi jangan berlebihan; imaji harus melayani cerita, bukan jadi pajangan semata. Terkadang satu kalimat sederhana seperti 'kopinya dingin' justru lebih menusuk karena kontras dengan harapan pembaca akan kehangatan.