Istri di Bawah Kuasanya
"Jika menolak, dalam waktu dua puluh empat jam, tempat ini akan diratakan oleh pasukan militer resmi atas tuduhan terorisme dan kepemilikan senjata ilegal skala berat. Kamu tahu aku punya kuasa untuk menulis narasi itu di media besok pagi, Radiva."
Radiva terdiam, otaknya menimbang risiko terbesar. Di depannya bukan lagi mafia lokal yang bisa diselesaikan dengan adu peluru, melainkan gurita politik negara yang memegang kendali atas hukum.
"Satu pilihan, Radiva," bisik Dirgantara, mengulurkan tangan kanannya menagih dokumen. "Menjadi sekutu tak terlihat kami, atau terhapus dari sejarah kota ini tanpa sisa."
Chapitres populaires