Gerimis Bulan Desember
desahku dengan suara bergetar.
Kucubit tangan dan sakit, aku tak bermimpi. Itu beneran dia!
Dia mendekat, tapi aku teringat akan sesuatu. Tanganku yang berinfus tersodor di depan badannya. “Jangan deket-deket, Mas! Nanti kamu ketularan pilek!” Aku berusaha menahan tubuh besarnya untuk menyentuhku.
Namun, dia bak medan magnet yang kuat. Hanya bisa bersatu saat bertemu denganku. Tak peduli, Inu langsung memelukku erat tanpa jarak. “Biar, aku ingin memelukmu!”