Ada sesuatu yang magis dari cara Andrea Hirata merangkai kata dalam 'Laskar Pelangi'. Gaya bahasanya mengalir seperti percakapan di warung kopi, penuh metafora lokal yang bikin pembaca langsung terhanyut ke Belitung. Aku ingat pertama kali membaca deskripsi tentang sekolah Muhammadiyah itu—rasanya seperti mencium aroma tanah basah setelah hujan.
Yang bikin menarik, Hirata tidak cuma bercerita, tapi juga 'menyentuh'. Dialog antar karakter terasa begitu hidup, seolah kita duduk di antara Laskar Pelangi. Gaya bahasa sederhana tapi puitis ini membuat novel tidak hanya mudah dicerna, tapi juga meninggalkan bekas. Dua minggu setelah menutup buku, aku masih bisa membayangkan suara derit pintu sekolah itu.