Pengantin Dadakan
“Bukan aku, sungguh aku tak mampu merangkai kata nan indah hingga buaya terhanyut dalam manisnya kopi susu gula jawa dikasih creamer.”
“Dian, woi!” Pujangga banget mulutnya.
“Sungguh, aku yang hina bagai debu ini hanya membantu kalian pedekate. Jangan terlalu kaku jadi orang. Dinginnya kulkas enam pintu bahkan tak mampu menyaingimu, duhai, engkau, kakakku yang cantik seperti Mak Lampir.”
Tarik napas, keluarin, jangan ditahan nanti jadi kentut. Kalau nggak ada papa mama udah kupites juga jidatnya.
Hot Chapters