Red in Us
Katha terdiam selama beberapa detik, lalu menjawab, “Emm iya, sih. Tapi, kan, lo bukan orang yang biasanya nemenin gue di tempat gituan.”
“Nggak sadar aja, lo,” sahut Rabu. Dia memutar mata malas. “Gue sering datang kalau lo udah separuh teler.”
Katha lebih banyak lupa. Sengaja dia lupakan memang. Karena baginya, bersenang-senang di tempat seperti itu tidak untuk dikenang, tapi untuk dinikmati dalam satu waktu.
“Ya, pokoknya gue nggak mau lo temenenin. Kalau lo jemput, sih, nggak nolak.”
Chapitres populaires