Terjemahan lirik sering terasa seperti merajut ulang perasaan dengan benang bahasa yang berbeda. Aku biasanya mulai dengan menangkap inti emosinya: apakah lagu 'goodbye' ini sedih, lega, marah, atau penuh penyesalan? Setelah itu aku memecah setiap bait menjadi makna literal dan makna implisit—apakah ada metafora, permainan kata, atau rima yang penting untuk dipertahankan.
Langkah berikutnya yang selalu kusarankan adalah memilih nada bahasa Indonesia yang konsisten: mau formal, puitis, atau sehari-hari? Misalnya kata 'goodbye' sendiri bisa jadi 'selamat tinggal', 'sampai jumpa', 'selamat jalan', atau 'pamit'—pilih sesuai nuansa. Untuk bagian yang bernyanyi, perhatikan jumlah suku kata dan tekanan kata agar tetap pas dengan melodi; kadang aku menukar kata demi kelancaran vokal meski harus mengubah struktur kalimat sedikit. Jangan takut menyesuaikan rima—lebih baik makna dan ritme yang hidup daripada terikat pada terjemahan harfiah.
Terakhir, baca ulang terjemahan sambil menyanyikannya. Jika terasa canggung, ubah lagi. Proses ini sering memerlukan beberapa revisi sampai kata, emosi, dan musik saling bersahutan. Aku selalu merasa puas ketika lirik terjemahan terdengar natural, seperti memang ditulis untuk bahasa kita.