Cinta Terbalut Benci
Gadis itu mengulas senyum selebar mungkin, mengisi dirinya dengan keyakinan dan harapan yang besar tentang pekerjaan yang Wawan tawarkan harus benar-benar menjadi miliknya.
“Sudah selesai!” pekik Ayya dengan mantap, seiring rasa puas yang turut menyeruak ke dalam hatinya. “Aku masih cantik, kok!”
Setelah merasa dirinya jauh lebih baik, dengan tampilan tubuhnya sudah cukup anggun dengan balutan baju kemeja lilac serta androk lipat di atas lutut, sepatu pantofel, serta tas jinjing agak lebar, Ayya bergegas untuk keluar dari kamar. Belum ada lima langkah menuju ruang makan, rasa hati Ayya kembali dibuat semakin tidak karuan saat mendapati ayah dan ibunya bertengkar.
Hot Chapters