Mr. Airlangga
Wangi aroma kopi langsung menyeruak indera penciumanku, aku tertegun, sepertinya aku pernah membaca entah di mana bahwa kafein tidak bagus untuk janin, dan aku tidak ingin meracuni bayi mungil di dalam perutku ini dengan kafein nikmat itu, walaupun sekarang aku menelan ludah membayangkan betapa nikmat menyeruput kopi panas itu.
“Lus … kopi …,” Arini kembali menyorongkan cangkir kopi lebih mendekat ke arahku.
“Eh … uumm, gue lagi nggak minum kopi,” kilahku.
Mata mereka berdua lagi melotot, seakan baru saja mendengar kabar bahwa covid sudah lenyap dari dunia dan kami bisa bebas travelling lagi.
“Sejak kapan kamu nggak minum kopi?” suara Inge terdengar menyelidik, seperti Sherlok Holmes yang se
Hot Chapters