Rumah Tengah Hutan
Apalagi, yang membuatkan adalah manusia istimewa, makhluk istimewa ciptaan Tuhan.
Beberapa lama kemudian, neng Afidah kembali keluar dengan membawa satu ceret kopi. Saya tidak bisa melihat warnanya ketika itu, karena memang wadahnya tidak transparan. Kopi itu adalah kopi untuk santri-santri yang memetik mangga, termasuk saya. Dia berjalan menuju posisi kami berdidi. Lalu, setelah jarak sangat dekat, barulah dia berkata kepada salah satu dari kami.
“Kang, ini kopinya. Saya taruh di sini.” Katanya sambil meletakkan ceret kopi pada tanah.
Hot Chapters