Tawanan Cinta Tuan Abizar
Dia mencuci tangan, membaca bismillah, lalu menyuap makanan tersebut ke dalam mulut.
Abizar menyeringai, entah kenapa dia terlihat begitu puas. Berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain, yang terlihat cukup khawatir.
Dan saksikanlah, Omar menangis di tempat. Mata Omar memerah, sebelah tangan besarnya memijat pangkal hidung dan memejamkan mata. Satu tetes air matanya jatuh, dia sudah tidak sanggup mengunyah. Bukan rasanya yang membuatnya sedih dan menyesal, tapi nostalgianya yang membuat dadanya begitu remuk. Bibir Omar bergetar, perlahan tangis diamnya menjadi isakan.
Hot Chapters