Menerjemahkan lirik 'All of Me' itu seperti mencoba menangkap air dengan tangan—indah tapi rumit. John Legend menulis lagu ini sebagai surat cinta mentah untuk Chrissy Teigen, penuh dengan kerentanan dan ketidaksempurnaan yang justru membuatnya sempurna. Aku selalu terpana bagaimana kata-kata sederhana seperti 'love your curves and all your edges' bisa terdengar begitu dalam dalam konteks komitmen total.
Versi terjemahan yang sering kudengar cenderung mempertahankan nuansa puitis aslinya. Misalnya, 'Cause all of me loves all of you' menjadi 'Karena semua diriku mencintai semua dirimu'. Terlihat sederhana, tapi ada keajaiban dalam kesetiaan terjemahan itu—tidak menghilangkan esensi pengorbanan dan penerimaan tanpa syarat. Beberapa forum penggemar bahkan memperdebatkan apakah 'perfect imperfections' lebih tepat diterjemahkan sebagai 'ketidaksempurnaan yang sempurna' atau 'cacat yang indah', menunjukkan betapan kompleksnya proses ini.
Bagian favoritku adalah terjemahan bridge-nya: 'You're my end and my beginning/Bahkan ketika aku kalah, kamu pemenangnya'. Ada permainan kata 'end and beginning' yang sulit dipertahankan, tapi versi Indonesianya justru menambahkan lapisan makna dengan kontras 'kalah-menang' yang tidak eksplisit di lirik asli. Ini membuktikan terjemahan yang baik bukan sekadar mengganti kata, tapi menangkap jiwa lagu.
Yang menarik, beberapa komunitas musik indie membuat versi adaptasi bebas dengan memasukkan ungkapan lokal seperti 'Jatuh cinta itu seperti kamu—tak perlu sempurna untuk kuagungkan'. Pendekatan kreatif semacam ini sering memicu diskusi seru di grup Discord pecinta musik. Terakhir kali kubaca, ada tiga versi terjemahan berbeda yang diperdebatkan di subreddit musik Indonesia, masing-masing dengan argumen linguistik dan emosionalnya sendiri.