Alegoria
Lelaki itu terus berjalan ke tengah jalan utama, mendekati garis penyebrangan, tak jauh dari tenda musik dan papan billboard bertuliskan “At the end of the day, you will remember the one with the most beautifull heart, not beautifull face.”
“Tunggu,” seru Luna, ketika sang sopir ingin berbelok menuju Alegra City, menuju istananya. “Tunggu,” serunya lagi, tanpa mengalihkan pandangannya kepada Gavin.
Setelah mengalirkan napas panjang, dalam kesendiriannya, perlahan sekali Gavin menggesek sang biola. Nada-nada sendu keluar. Terbang. Menyambar di udara. Mengalir. Ia terpejam, menghayati setiap detik yang luruh. Kesedihan. Kegembiraan. Keharuan. Semua menyatu menjadi melodi dalam musiknya.
Hot Chapters