Tak Pernah Terbesit, Cintanya Palsu
"Apa kamu pernah memikirkan perasaanku? Kamu tahu nggak, betapa hancurnya aku saat mendengar kabar kematianmu?"
Meski terdengar seperti interogasi, wajahnya malah dipenuhi kesedihan. Saat kata-katanya melemah, matanya memerah.
Tidak, ini sudah bukan sekadar kemarahan. Ini adalah keluhan yang menumpuk, kerinduan yang tak terucap.
Aku menatapnya dengan tenang dan berkata dengan nada mengejek, "Aku kira kamu akan langsung menikahi Mona, lalu membiarkan dia dan anaknya mengambil posisiku."